Main Article Content

  • Dwi Iriyani
    Universitas Terbuka
  • Pangesti Nugrahani
    UPN Veteran Jawa Timur, Surabaya

Abstract

The developing of urban agriculture is having an important contribution in food supply to the citizen. One of urban agriculture commodity which is marketable is leaf vegetable, as the sources of protein, vitamin, minerals, essential amino acids that is cheap and available everydays. Even though the developing of urban agriculture commodity in the marginal land condition, but the result is a good product. This research conducted to make a comparison of nutrition value the leaf vegetable which planted in surabaya urban agriculture, such as Kangkung (Ipomea aquatic forsk), Mustard green (Brassica rapa), and Spinach (Spinacea oleracea L.), with its similar products which are produced organically. The method  used is descriptive quantitativeThe total chlorophyll content and carotenoids are be measured by using spectrophotometric method at a wavelength of 480 nm, 645nm, and 663 nm.The content of vitamin C be measured by using the titration methods solution of Dichlorophenol Indophenol (DCPIP). The findings indicated that vegetable which planed in non organic agriculture, or organic, is having high enough in water content, more than 80%. The high vitamin C level is in non organic Mustard green (2,45 µg/g) and the lowest one in organic spinach (0,68 µg/g). The high chlorophyll level is in non organic spinach (23,81 mg/L) and the lowest one in non organic kangkung (3,29 mg/L). Likewise, the high carotene level is in non organic spinach (263,52 μmol/L) and the lowest one in non organic mustard green (168,02 μmol/L). The results of this study indicate that there is no particular type of leaf vegetables that has all the best nutrition value, both organic and non-organic.


Pertanian perkotaan dikembangkan agar dapat memiliki kontribusi penting dalam memasok bahan pangan penduduk kota. Salah satu komoditi pertanian perkotaan yang cukup marketable adalah sayuran daun. Sayuran daun adalah sumber protein, vitamin, mineral, dan asam amino esensial paling murah dan tersedia setiap saat. Meskipun komoditi pertanian perkotaan dikembangkan di lahan yang marjinal, namun menghasilkan produk yang cukup baik. Penelitian ini dilakukan untuk membandingkan nilai gizi sayuran daun yang ditanam di pertanian perkotaan kota Surabaya, yaitu kangkung (Ipomea aquatic Forsk), sawi hijau (Brassica rapa), dan bayam (Spinacea oleracea L.), dengan produk serupa yang dihasilkan secara organik. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif. Kandungan klorofil total dan karotenoid diukur dengan menggunakan metode spektrofotometri pada panjang gelombang 480 nm, 645 nm, dan 663 nm. Kandungan vitamin C diukur dengan metode titrasi larutan Dichlorophenol Indophenol (DCPIP). Hasil penelitian menunjukkan sayuran yang ditanam pada pertanian non organik, maupun organik, memiliki kadar air yang cukup  tinggi, yakni lebih dari 80%. Kadar vitamin C tertinggi pada Sawi non organik (2,45 µg/g) dan terendah pada bayam organik (0,68 µg/g).  Kadar klorofil tertinggi pada bayam non organik (23,81 mg/L) dan terendah pada kangkung non organik (3,29 mg/L). Demikian juga kadar karoten tertinggi pada bayam non organik (263,52 μmol/L) dan yang terendah pada sawi non organik (168,02 μmol/L). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada jenis sayuran daun tertentu yang memiliki seluruh nilai gizi terbaik, baik yang organik maupun yang non organik.

Keywords

leaf vegetable, nilai gizi, nutrition’s value, pertanian perkotaan, sayuran daun, urban agriculture

References

Adiyoga, W., Dimyati, A., Soetiarso, TA., Ameriana, M., & Suherman R. (2004). Persepsi terhadap keberadaan pertanian urban di Jakarta dan Bandung. J.Hort. 14(2):134-149.

Anjali, Kumar, M., Singh, N., & Krishan, Pal. (2012). Effect of sulphur dioxide on plant biochemicals. International journal of pharma professional’s research, Vol. 3(2): 627. Available online at www.ijppronline.com.

Dewoto, HR. (2007). Vitamin dan mineral dalam farmakologi dan terapi edisi kelima. Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta: Percetakan Gaya Baru.

Harborne, JB. (1987). Metode fitokimia, penuntun cara modern menganalisis tumbuhan. Diterjemahkan oleh Padmawinata dan Soediro. Bandung: Penerbit ITB.

Hendry GAF., & Grime, JP. (1993). Methods on comparative plant ecology, a laboratory manual. London: Chapman and Hall.

Iriyani D., & Nugrahani, P. (2014). Kandungan klorofil, karotenoid, dan vitamin c beberapa jenis sayuran daun pada pertanian periurban di Kota Surabaya. Jurnal matematika, sains, & teknologi, 16(2): 84-90

Isdiayanti. (2008). Analisis usahatani sayuran organik di perusahaan matahari farm (Skripsi). Bogor: Fakultas Pertanian, Institut Pertanaian Bogor.

Joshi, PC., & Swami, A. (2009). Air pollution induced changes in the photosynthetic pigments of selected plant species. J. Environ. Biol, 30(2), 295-298.

Kurniawan M., Izzati M., & Nurchayati Y. (2010). Kandungan klorofil, karotenoid, dan vitamin C pada beberapa spesies tumbuhan akuatik. Buletin anatomi dan fisiologi, XVIII (1):28-40.

Malian & Siregar. (2000). Peri-urban vegetable farming in Jakarta. Laporan Penelitian.

Manuhutu, M., & Bernard, TW. (2005). Bertanam sayuran organik bersama Melly Manuhutu. Jakarta: PT. Agromedia Pustaka.

Parlyna, R., & Munawaroh. (2011). Konsumsi pangan organik: Meningkatkan kesehatan konsumen. Econosains, IX (2): 57-165.

Prangdimurti, E. (2007). Kapasitas antioksidan dan daya hipokolesterolemik ekstrak daun suji (Pleomele angustifolia N.E. Brown). Disertasi Doktoral sekolah pascasarjana, IPB, Bogor.

Setiari, N., & Nurchayati, Y. (2009). Eksplorasi kandungan klorofil pada beberapa sayuran hijau sebagai alternatif bahan dasar food supplement. BIOMA, 11 (1): 6-10.

Setiyawidi, R., Hartono, G., & Maria. (2013). Potret perilaku konsumen sayuran di perkotaan dan pedesaan. Agric, 25(1): 26-33.

Smirnoff, N. (1996). The function and metabolism of ascorbic acid in plants. Annals of botany, 78: 661-669.

Suryaningsih, E. (2008). Pengendahan penyakit sayuran yang ditanam dengan sistem budidaya mosaik pada pertanian periurban. J. Horl, 18(2):200-211.

Wharthington, V. (2001). Nutritional quality of organic versus conventional fruits, vegetables, and grains, The journal of alternative and complementary medicine, 7(2):161-173.

Widaningrum, Miskiyah, & Suismono. (2007). Bahaya kontaminasi logam berat dalam sayuran dan alternatif pencegahan cemarannya. Buletin teknologi pascapanen pertanian, 3: 16-27.

Woese, K., Lange, D., Boess, C., & Bogl, KW. (1995). A comparison of organically and conventionally grown foods-Results of a review of the relevant literature. J Sci Food Agric, 74:281-293.

Article Sidebar

Published Sep 14, 2017
How to Cite
IRIYANI, Dwi; NUGRAHANI, Pangesti. KOMPARASI NILAI GIZI SAYURAN ORGANIK DAN NON ORGANIK PADA BUDIDAYA PERTANIAN PERKOTAAN DI SURABAYA. Jurnal Matematika, Sains, Dan Teknologi, [S.l.], v. 18, n. 1, p. 36-43, sep. 2017. ISSN 2442-9147. Available at: <http://ilp.ut.ac.id/index.php/JMST/article/view/194>. Date accessed: 24 sep. 2017.
Section
Articles